
Menurut hikayat Sinambiwiro yaitu suatu cerita berasal dari kabar dari mulut ke mulut yang merupakan cerita masyarakat terutama yang dituturkan oleh para sesepuh yang waktu itu masih hidup sebagai figur terpandang juga dari keterangan para sepuh yang mengaku masih ada hubungan darah atau keturunan cina bakal Desa Belik.
Penulis melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat Desa Belik antara lain dengan Mbah MUKRI wafat Th. 1965 – KI REKSA SUKRAM dukuh Kuli Gondang wafat Th. 2010 – Mbah RASDI Dk. Lor pindahan dari Silongok wafat Th. 2002 – Mbah AHMAD MURSIDI wafat Th 1950 bekas lurah Mbah RAHYADI wafat Th. 1955, bekas Kades dan para sepuh yang keterangannya dapat dipercaya.
Penulis berusaha merangkai cerita sepotong menjadi alur cerita yang dapat dipahami berdasarkan akal yang signifikan, terutama keterangan dari sedikitnya lima orang yang berceritera tentang hal yang sama atau hampir sama. Disiplin ilmu penulisan, model wawancara mudah-mudahan dapat membantu menelusuri sejarah masa lalu desa Belik.
Jalan ceritanya demikian :
Pada jaman dahulu kala di Tanah Pasundan Jawa Barat ada seorang Raja dari kerajaan GALUH WANGI yang bernama BANYAK WIDE karena berselisih dengan saudara kandung setelah membagi wilayah dengan saudaranya dengan batas Kali Pemali di Brebes maka Banyak Wide mengembara ke wilayah timur.
Dalam pengembaraan sampailah sang Prabu pada suatu tempat yang merupakan tempat leluhur mereka di mana pada saat yang lalu leluhur mereka yaitu Prabu Rahyangta Panaraban Raja Kebon Agung di Pemalang (sekarang Kabunan) pernah berupaya membangun istana baru di Desa Kuta namun upaya mereka gagal karena sebelum terlaksana beliau wafat dan dimakamkan di puncak Bukit Mendelem. Maka Banyak Wide sambil napak tilas sebelum melanjutkan pengembaraan menelusuri banyak hal yang telah dilakukan oleh leluhur mereka. Banyak hal yang ingin diketahui sebagai bekal seorang pemimpin. Banyak Wide sering juga mendaki puncak Bukit Mendelem, nyekar di kubur Rahyangta Panaraban di mana semasa di GALUH dikenal sebagai PRABU TAMPERAN BRAMAWIJAYA.
Tersebutlah di Dukuh Tamansari Desa Kuta ada seorang gadis yang lahir dari salah satu keturunan istri selir mendiang Prabu Panaraban. Gadis itu bernama DEWI TUNUTI. Dewi Tunuti tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang sangat cantik sehingga setiap pria dewasa akan terpesona melihat kecantikannya.
Suatu kebetulan bahwa Banyak Wide belum mempunyai anak sangat iba melihat Dewi Tunuti yang masih keturunan leluhur mereka hidup sangat sederhana di Dukuh Tamansari sebagai petani miskin. Banyak Wide sepakat dengan istrinya setelah mendapat persetujuan keluarga Dewi Tunuti maka diboyonglah Dewi Tunuti ke Desa Kuta sebagai anak angkat.
Tidak heran bila banyak putra pangeran yang ingin mempersunting Dewi Tunuti, namun Dewi Tunuti menolak semua lamaran para putra pangeran sehingga membuat bingung sang Prabu. Alasan Dewi Tunuti di antaranya bahwa Dewi Tunuti belum siap untuk hidup di lingkungan kehidupan para pangeran yang serba mewah sedangkan dia sendiri dibentuk dalam lingkungan kehidupan petani miskin.
Namun itu alasan penolakan saja sebab Dewi Tunuti sebagai seorang gadis remaja sudah terpikat hatinya oleh kesederhanaan dan ketampanan serta sifat ksatria dan kehalusan budi seorang pemuda desa dari Dukuh Mingkrik yang tinggal dekat sumber mata air Belik putra seorang Buyut (Kepala Desa) yaitu putra Ki Buyut Merta. Seorang pemuda tampan, tinggi besar, bermata tajam, berwibawa bernama JAKA WIRYA.
Rupanya Jaka Wirya pun terpikat oleh keelokan Dewi Tunuti sehingga tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling mencintai. Jaka Wirya sudah meminta kepada ayahnya untuk meminang Dewi Tunuti. Namun Buyut Merta tidak berani melangkah untuk meminang mengingat dia hanya seorang Buyut yang tidak pantas meminang putri seorang raja meskipun dia hanya anak angkat. Sementara Dewi Tunuti sudah bulat tekadnya hanya akan menerima lamaran Buyut Merta sehingga siang dan malam hanya menanti datangnya lamaran yang tidak kunjung datang.
Semula sebagai seorang raja yang bijak Banyak Wide pun akhirnya memberi kebebasan kepada putrinya untuk memilih jodohnya. Tetapi karena dihabiskan sang waktu yang teus berjalan sementara usia Dewi Tunuti terus bertambah sang Prabu takut Dewi Tunuti jadi perawan tua karena Buyut Merta tetap tak kunjung datang melamar sehingga diputuskannya lamaran seorang pemuda Pasudan putra JAKA MRUYUNG masih keturunan Prabu Brantasenawa diterima sebagai calon menantunya untuk jadi suami Dewi Tunuti. Hari baik untuk acara perkawinan diputuskan kedua keluarga.
Dewi Tunuti mendengar hal tersebut siang dan malam cuma menangis di kamar tidur, makanpun sudah tidak dihiraukan sepanjang malam hanya menangis berharap datangnya Buyut Merta. Semua sanak keluarga menghibur juga ayah ibunya menasehati bahwa Jodoh dan Cinta itu memang berbeda. Nasehat Prabu Banyak Wide kepada putrinya yang lain : Bahwa cinta itu Cuma suara hati yang kadang dipengaruhi oleh nafsu sedangkan jodoh adalah kehendak bethara cina yang harus dilaksanakn sebagai dharma. Jangan sampai kita terjerumus dengan hanya menuruti suasana hati yang dipengaruhi nafsu birahi yang rendah. Tetapi seorang putri raja harus tegar menjalani dharma sebagai kesuma sehingga sudahlah tidak usah larut di dalam penantian yang belum jelas, sehingga seorang putri sjati akan mampu berkorban mengubur cintanya semi dharma dan pepesthen yang harus dijalani sebagai takdir yang sudah digariskan sang China. Kita harus rela.
Sementara bagi Dewi Tunuti telah terjadi gejolak perang batin yang luar biasa setelah mendengar nasehat bapaknya. Bila ia menolak kehendak ayahnya berarti telah melanggar sabda Raja tetapi apabila ia menuruti harus bersuamikan orang yang tidak dicintainya serasa berat sekali karena sebenarnya hatinya hanya untuk Jaka Wirya. Tak dapat dibayangkan bila sebagai seorang istri nanti cuma dapat menyerahkan tubuhnya sedangkan batinnya telah mati.
Sementara keadaannya sekarang menambah putus asa karena segera Dewi Tunuti dipingit tidak diperkenankan keluar rumah. Masih ada kemungkinan keluar dari gejolak batinnya meski sangat kecil ialah bila ia dapat lolos dari rumah dan mengajak Jaka Wirya untuk kawin lari – terlepas seperti burung dari sangkarnya.
Pada suatu malam yang hening Dewi Tunuti sudah bulat tekadnya untuk lolos dari rumahnya pergi ke rumah Jaka Wirya, maka diam-diam dengan dibantu para dayang yang sangat kasihan melihat nasibnya, lolos dari pengawalan yang ketat. Kemudian malam itu juga menuju dukuh Mingkrik. Jaka Wirya dan Ki Buyut Merta sangat terkejut melihat kehadiran Dewi Tunuti malam-malam datang sendiri. Sambil menangis Dewi Tunuti menyampaikan nasib yang menimpa dirinya dengan berharap mendapat pertolongan dari Jaka Wirya dan juga Ki Buyut Merta.
Ki Buyut tidak berani menolong karena status Dewi Tunuti sudah dilamar orang dan sebagai seorang buyut tidak berani menentang keputusan Rajanya yang sudah menerima pinangan putra Jaka Mruyung. Sementara Jaka Wirya diam membisu ketika diajak lari bersama ke tempat yang jauh. Suasana yang demikian menyebabkan Dewi Tunuti sangat putus asa sehingga tiba-tiba dengan lantang Dewi Tunuti berteriak
“… BAIK,, KALAU BAPAK DAN ANAK SAMA SAJA MAKA DIKEMUDIAN HARI ORANG-ORANG BELIK TIDAK AKAN PERNAH BERANI MEMUTUSKAN PERKARA BESAR,,,!!“ Demikian setelah kutukan disampaikan kemudian tiba-tiba Dewi Tunuti berbalik dan lari menuju sumber air Belik.
Selanjutnya tragedi telah terjadi karena baik Ki Buyut Merta maupun Jaka Wirya hanya mendapatkan Dewi Tunuti sudah terbujur menjadi mayat karena bunuh diri.
Penyesalannya yang tak kunjung berakhir dengan rasa kecewa Jaka Wirya setiap hari duduk termenung menunggu kekasihnya yang tak mungkin kembali. Siang dan malam hanya duduk di atas batu hitam dengan sorot matanya yang kosong memandang mata air sampai akhir hayatnya.
Masyarakat Belik terutama para Tokoh yang senang melakukan tirakat baik puasa maupun tidak tidur satu malam masih sering melihat pada malam-malam tertentu ada seelor macan putih duduk termenung diatas mata air Belik.
Warga masyarakat sekitar sumber air mata belik sering juga setiap satu bulan sekali ada seekor kera yang meloncat kebingungan di pohon karet yang besar kemudian berbunyi pelan-pelan seakan-akan sedang menangis. Sebagian pini sepuh beranggapan bahwa kera tersbut terkena PULUNG yaitu takdir untuk jadi santapan harimu. Wallahualam bi shawwab.
Diperkirakan kera tersebut dihadirkan dari kera yang ada di bukit Mendelem – setelah jatuh dari pohon karet sebagai Pulung maka kera tersebut hilang secara misterius.
Tulisan ini berasal dari buku berjudul “Riwayat Desa Belik” karya Darjono, S .Pd





