Di sekitar Tahun 1930 setelah terjadi malayse yaitu krisis ekonomi dunia. Tahun 1929 masyarakat digegerkan peristiwa yang sangat mengerikan. Kematian hampir setiap hari oleh menjalarnya penyakit epidemic yaitu kutu loncat yang bersumber dari tikus rumah – yang disebut penyakit LONGPES.
Pemerintah Hindia Belanda melakukan operasi besar-besaran untuk membunuh tikus. Rumah yang usuknya dari bambu diharuskan dibongkar sedangkan pembuatan rumah baru disyaratkan adanya jendela besar yang menghadap ke timur dan ke barat. Ujung usuk bambu harus disumbat agar tidak menjadi sarang tikus.
Di Desa Belik semua rumah harus menghadap ke utara atau ke selatan sehingga rumah yang berada di jalur ke arah utara tidak ada satu pun yang menghadap ke jalur jalan.
Yang sangat menarik masyarakat Belik waktu itu munculnya permainan yang bernama UJUNGAN. Ujungan adalah sebuah permainan kekuatan dan kesaktian. Setiap peserta diharuskan menjulurkan kaki yaitu tulang keringnya untuk dipukul dengan galih (inti) kayu pohon asam yang disebut RUYUNG. Ruyung bisa saja dibuat dari inti kayu pohon kelapa atau semacamnya yang tua sehingga sangat keras. Kekuatan alat pemukul yang bernama Ruyung itu masih dilambari kekuatan magic si pemegang sehingga hanya orang-orang sakti dan kuat saja yang berani mengikuti Ujungan. Seorang disebut Jawara Ujungan bila orang tersebut kakinya dipukul dengan Ruyung hanya berbunyi “Ting” seperti besi yang dipukul dan tidak apa-apa. Mereka yang kakinya seperti besi itulah dinyatakan sebagi pemenang. Mereka bertaruh dan tidak jarang mereka mempertaruhkan wanita cantik sebagai hadiahnya, tetapi umumnya mereka hanya bangga disebut Jawara atau Jagoan. Arena ujungan berada di Dukuh SILONGOK (tempat nonton Ujungan. Nglongok = melihat).
Maraknya Ujungan di Desa Belik muncul pula nama Jagoan seperti R. Sutrisna, Ki Mashar, Ki Guna, Ki Marzuki, Ki Darma, Ki Ta’an, bahkan muncul jagoan dari luar Desa Belik seperti Ki Jamban dari Gunung Jaya – Ki Lurah Jlegong (Karang Reja), Ki Lurah Gombong dan muncul pula nama primadona cantik yang diperebutkan dalam Ujungan antara lain Ni Tewes, Ni Runtah dsb.
Dalam adu Ujungan ada dua jagoan yang sangat terkenal karena mereka belum pernah terkalahkan dalam adu Ujungan tersebut. Nama jagoan tersebut adalah SAMIJAYA dari Dukuh Kepetek dan SILOSDRO dari Dukuh Rimpak.
Dalam pertarungan puncak kedua jagoan sampai berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Jiwa besar seorang Silosdro juga kejemuan menjadi jawara yang tak terkalahkan menyebabkan Silosdro mengambil keputusan untuk mengasingkan diri di sebuah goa di Dukuh Rimpak dengan meletakkan senjatanya di goa tersebut. Silosdro menjalani hidupnya di goa tersebut sehingga goa tersebut dinamai GOA SILOSDRO.
Tulisan ini berasal dari buku berjudul “Riwayat Desa Belik” karya Darjono, S .Pd






