
Siapapun yang mendengar kata “Pantura” tak akan merasa asing bagi mereka yang sudah pernah melintasi jalur ini. Imajinasinya akan melayang pada bayangan truk-truk tronton dengan roda-roda besar, bus-bus lintas kota yang kecepatannya seperti pembalap di lintasan sirkuit. Cerita pantura seperti panas yang menyengat dari aspalnya. Terik permukaan aspal adalah berkah rezeki para pedagang asongan berpeluh keringat menawarkan aneka jajanan dan minuman. Warung-warung makan dan peristirahatan pinggir jalan yang dipasang dari bambu maupun kayu, serta kemacetan panjang yang mengular merupakan pemandangan biasa kala itu sebelum ada tol lintas Jawa.
Epik pantura yang kita nikmati sekarang sejatinya sudah menggilas tanah jawa berabad-abad lamanya. Hartatik, seorang sejarawan menulis kisah tentang Pantura. Ihwal nama “Pantura” sendiri baru disebut-sebut oleh media pada tahun 1980an. Sebelumnya wilayah ini dikenal dengan sebutan Pesisir utara ketika Sultan Agung berkuasa. Konon Sultan Agung sudah merancang jalan pesisir utara Jawa Tengah. Jalan raya bagian tengah pesisir utara atau yang kini menjadi otonomi Provinsi Jawa Tengah menjadi artikel berita bertajuk “Een en Ander over het verkeerwezen in Noord-Midden Java “. Adalah De Haan, seorang Belanda melakukan perjalanan pada tahun 1622 dari Tegal ke ibukota Mataram. De Haan melakukan perjalanan ke Mataram melalui jalur di sepanjang pesisir utara jawa tengah. Diawali dari Batavia ke Tegal lewat jalur laut. Perjalanannya ke Kerta, ibukota Mataram dilanjutkan dengan armada kuda melintasi jalan-jalan yang dibuat oleh Sang penguasa Mataram. De Haan melewati Pemalang, Wiradesa, Pekalongan, Batang, Subah dan Magelang.
Gubernur Jendral Herman Willem Daendels melihat peluang jalan pesisir utara ini untuk memperkuat kekuasaan Belanda di Jawa. Daendels kemudian menggagas revitalisasi jalan dan rute ini yang mulai dikerjakan pada 1 September 1808. Para Bupati diberi instruksi untuk mengawasi pekerjaan ini. Buruh kasar dikerahkan sehingga jalan yang dibangun Daendels dengan panjang kurang lebih 1000 kilometer atau 600 pal rampung dalam waktu 3 tahun (1808-1811). Rutenya membentang dari Anyer Jawa Barat hingga Panarukan di Jawa Timur. Estafet rute ini lebih dikenal dengan De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos. Di sepanjang jalan ini pula, sang Gubernur Jendral mendirikan 50 kantor pos. Strategi Daendels dengan menguasai jalan pesisir utara tentu untuk tujuan Hindia Belanda. Kemudahan dan keuntungan menguasai pesisir utara yang lainnya adalah mengangkut dan mendistribusikan komoditas perkebunan maupun pertanian tanah jawa sebelum dibawa ke pelabuhan-pelabuhan. Pun sekaligus mensiasati serangan maupun ancaman musuh-musuh yang menentang kehadiran mereka. Pada tahun ini pula HJ Domis, Residen Pasuruan mulai melakukan expedisi perjalannnya diberbagai daerah di pesisir utara termasuk di Pemalang (https://www.ngabuburead.id/793/pemalang-dalam-catatan-hj-domis/).
Dimana Jalan Raya Pantura Pemalang ??
Sebagai salah satu kota pesisir utara di Jawa Tengah, pembangunan jalan raya pos melewati Pemalang. Namun benarkah jalan raya pos itu adalah jalur pantura yang saat ini disebut-sebut dalam sejarah tersebut.
Sebuah peta arsip belanda tahun 1944 mengungkapkan gambaran daerah yanag kini dikenal dengan sentra nanas. Peta belanda itu memberi informasi bahwa jalan raya pos yang menjadi bagian dari sejarah tumbuh kembang perkotaan Pemalang melewati ruas jalan yang dimulai dari jalan raya perbatasan Pemalang dengan Tegal – jalan Urip Sumoharjo – jalan Jendral Sudirman – jalan Perintis Kemerdekaan hingga jalan raya petarukan ke timur yang menyambung dengan wilayah Pekalongan. Ingatan kolektif penduduk pemalang yang sudah berusia lebih dari setengah abad menuturkan bahwa ketika itu jalur pantura sekarang merupakan jalan baru yang dibangun pada tahun 1980an pada masa Bupati Slamet Haryanto. Tanah-tanah di area Pagaran dan seterusnya ke arah timur saat itu diberikan secara sukarela kepada negara untuk kepentingan umum. Di samping itu, pembanguan ruas baru jalan pantura di Pemalang juga mensiasati supaya kendaraan besar tidak melintas di dalam kota.
Kembali melihat peta 1944, jalan raya pos melalui area yang sekarang menjadi Kelurahan atau desa antara lain Ploetan (Pelutan), Kebondalem, Pekoenden (Pekunden), Karanganyar (sekarang menjadi wilayah Mulyoharjo dan Wanarejan), Bedji (Beji), dan Pegandoelan (Gandulan). Kawasan ini menjadi nadi kehidupan masyarakat Pemalang yang riuh. Bahkan, sebelumnya, dahulu sekolah Tiong Hoa Hwee Koan di jalan Urip Sumoharjo serta perusahaan bus Moga dan Rumah Shidokan di sebelah barat pos polisi alun-alun. Rumah Shidokan yang disebut-sebut dalam buku yang ditulis oleh Anton Lucas dalam Peristiwa Tiga Daerah.
Di sepanjang jalan Jendral Sudirman merupakan pertokoan yang dimiliki etnis Tiong Hoa sehingga dikenal dengan “Pecinan Pemalang”. Di utara alun-alun bahkan masih dikenal istilah “Paloran” untuk menyebut kawasan ini. Bergerak ke timur, bangunan Pegadaian yang tua masih menjadi saksi kota nanas yang semakin tua. Di belakangnya adalah Kantor Pos yang sudah berganti wajah dan bis surat yang sudah dipindahkan. Semakin ke arah timur, dahalu ruas jalan ini merupakan gudang-gudang untuk menyimpan kayu, garam, dan gula yang dimiliki oleh Belanda sebelum dikirim ke Pelabuhan. Wajah kota masa lalu Pemalang di sepanjang jalan ini sudah tidak dikenali lagi karena berubah menjadi pusat perekonomian.
Dhiana, local citizen





